tekno.BALI ISLAND
ID
Semua artikel
Programming8 menit baca

Perbedaan GitHub dan GitLab: Mana yang Lebih Cocok untuk Developer?

github vs gitlab

Kalau baru mulai belajar Git, biasanya tidak butuh waktu lama sampai kita bertemu dengan dua nama ini: GitHub dan GitLab.

Sekilas keduanya terlihat hampir sama. Sama-sama bisa digunakan untuk menyimpan source code, bekerja bersama tim, membuat branch, melakukan merge, sampai mencatat perubahan pada sebuah project.

Karena tampilannya dan fungsinya mirip, tidak sedikit orang yang akhirnya bertanya:

Sebenarnya apa perbedaan GitHub dan GitLab?

Jawaban sederhananya, keduanya memang punya fungsi dasar yang hampir sama, tetapi cara mereka membangun ekosistemnya sedikit berbeda.

GitHub lebih dikenal sebagai tempat berkumpulnya developer dan project open source, sedangkan GitLab sejak awal cukup kuat dalam pendekatan DevOps yang lebih terintegrasi.

Supaya lebih mudah memahaminya, kita bahas satu per satu.

Sebelum Membandingkan, GitHub dan GitLab Bukan Git

Ini salah satu hal yang cukup sering membingungkan developer pemula.

Git, GitHub, dan GitLab adalah tiga hal yang berbeda.

Git adalah sistem version control yang digunakan untuk mencatat perubahan pada source code.

Sementara GitHub dan GitLab adalah platform yang menyediakan tempat untuk menyimpan repository Git secara online.

Sederhananya:

Git adalah mesinnya, sedangkan GitHub dan GitLab adalah tempat kita menggunakan mesin tersebut bersama tim.

Misalnya kita memiliki project Laravel di laptop.

Dengan Git kita bisa mencatat perubahan seperti:

  • membuat fitur login,
  • memperbaiki bug,
  • menambahkan payment gateway,
  • atau mengembalikan kode ke versi sebelumnya.

Kemudian repository tersebut bisa dikirim ke GitHub atau GitLab supaya bisa diakses secara online dan dikerjakan bersama developer lain.

Apa Itu GitHub?

GitHub adalah platform hosting repository Git yang saat ini sangat populer di kalangan developer.

Banyak project open source besar menggunakan GitHub sebagai tempat utama untuk menyimpan source code, menerima kontribusi, melaporkan bug, dan berdiskusi mengenai pengembangan software.

Karena jumlah penggunanya sangat besar, GitHub juga sering dianggap seperti sebuah jejaring sosial untuk programmer.

Kita bisa melihat repository developer lain, memberikan star, melakukan fork, mengikuti project tertentu, hingga berkontribusi melalui pull request.

Bagi developer yang ingin membangun portfolio, GitHub juga cukup penting.

Tidak sedikit perusahaan atau recruiter yang melihat aktivitas GitHub seorang developer sebelum melakukan proses rekrutmen.

Apa Itu GitLab?

GitLab juga merupakan platform untuk mengelola repository Git.

Fungsi dasarnya mirip dengan GitHub, tetapi GitLab sejak lama lebih menekankan konsep DevOps dalam satu platform.

Artinya, selain menyimpan source code, GitLab menyediakan berbagai fitur yang berhubungan dengan proses development sampai deployment.

Contohnya:

  • source code management,
  • CI/CD,
  • issue tracking,
  • monitoring pipeline,
  • package registry,
  • container registry,
  • hingga deployment automation.

Karena pendekatan tersebut, GitLab cukup populer digunakan oleh perusahaan yang ingin mengatur workflow development secara lebih terpusat.

Perbedaan GitHub dan GitLab

Walaupun sama-sama menggunakan Git sebagai fondasinya, ada beberapa perbedaan penting antara keduanya.

1. Popularitas dan Komunitas

Kalau berbicara soal komunitas developer, GitHub memiliki ekosistem yang sangat besar.

Banyak library, framework, tools, dan project open source terkenal tersedia di GitHub.

Misalnya ketika kita mencari sebuah library JavaScript atau package tertentu, besar kemungkinan dokumentasi source code-nya mengarah ke GitHub.

GitLab juga memiliki komunitas yang besar, tetapi penggunaannya cukup sering ditemukan pada project internal perusahaan atau workflow DevOps.

Jadi secara sederhana:

GitHub sangat kuat dari sisi komunitas dan open source.

Sedangkan:

GitLab sangat kuat untuk workflow development yang terintegrasi.

2. Pull Request dan Merge Request

Di GitHub terdapat fitur yang disebut Pull Request.

Sementara di GitLab namanya Merge Request.

Walaupun namanya berbeda, konsepnya hampir sama.

Misalnya kita membuat branch:

feature-payment

Setelah fitur selesai dibuat, kita ingin menggabungkannya ke branch:

main

Kalau masih belum familiar dengan branch, kamu bisa membaca panduan Cara Membuat Branch Baru di Git terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke proses merge atau pull request.

Di GitHub kita membuat Pull Request.

Di GitLab kita membuat Merge Request.

Melalui proses tersebut, developer lain bisa melakukan review terhadap kode sebelum akhirnya digabungkan.

Jadi jangan terlalu bingung ketika berpindah dari GitHub ke GitLab. Istilahnya berbeda, tetapi konsep kerjanya mirip.

3. CI/CD

Salah satu area yang sering menjadi pembeda GitHub dan GitLab adalah CI/CD.

GitLab dikenal cukup lama dengan fitur GitLab CI/CD yang terintegrasi langsung dengan repository.

Konfigurasinya biasanya menggunakan file:

.gitlab-ci.yml

Sementara GitHub memiliki GitHub Actions, yang menggunakan workflow pada folder:

.github/workflows/

Keduanya bisa digunakan untuk melakukan berbagai automation.

Contohnya setiap kali developer melakukan push ke repository:

  1. menjalankan unit test,
  2. melakukan build aplikasi,
  3. mengecek error,
  4. kemudian melakukan deployment otomatis.

Dulu GitLab sering dianggap lebih unggul untuk CI/CD karena fitur tersebut sudah menjadi bagian penting dari platformnya.

Namun sekarang GitHub Actions juga sudah sangat matang.

Jadi dalam praktiknya, keduanya sudah sama-sama mampu digunakan untuk workflow CI/CD modern.

4. Self Hosting

GitLab cukup terkenal karena fleksibilitasnya untuk digunakan sebagai self-hosted Git repository.

Artinya perusahaan bisa menjalankan GitLab pada server milik sendiri.

Dengan cara ini, source code tidak harus disimpan pada server layanan publik.

Hal ini biasanya menarik bagi perusahaan yang memiliki aturan keamanan internal yang ketat.

GitHub juga memiliki solusi untuk kebutuhan enterprise dan deployment internal, tetapi GitLab sejak lama memang memiliki citra yang kuat sebagai platform yang cukup fleksibel untuk self-hosting.

5. Tampilan dan Pengalaman Penggunaan

Dari sisi tampilan, GitHub biasanya terasa lebih sederhana untuk pengguna baru.

Halaman repository cukup mudah dipahami.

Developer bisa langsung melihat:

  • file project,
  • commit,
  • branch,
  • pull request,
  • issue,
  • dan contributor.

GitLab memiliki menu yang lebih banyak karena fitur DevOps-nya juga cukup luas.

Bagi pengguna baru mungkin terasa sedikit lebih kompleks.

Tetapi kalau sudah terbiasa, banyaknya fitur tersebut justru cukup membantu karena tidak perlu menggunakan terlalu banyak layanan tambahan.

6. GitHub Lebih Terasa Seperti Komunitas, GitLab Lebih Terasa Seperti Workspace

Ada satu cara sederhana untuk membedakan karakter GitHub dan GitLab.

Bayangkan GitHub seperti sebuah kota besar tempat developer berkumpul.

Ada banyak project, komunitas, library, developer, dan perusahaan di dalamnya.

Kita bisa melihat pekerjaan orang lain, menemukan project baru, atau ikut berkontribusi.

Sementara GitLab lebih terasa seperti kantor digital tempat sebuah tim software bekerja.

Di dalamnya ada repository, pipeline, issue, deployment, registry, dan berbagai tools untuk menjalankan proses pengembangan aplikasi.

Tentu analogi ini tidak berarti GitHub tidak cocok untuk perusahaan atau GitLab tidak cocok untuk open source.

Keduanya bisa digunakan untuk keduanya.

Perbedaannya lebih kepada karakter ekosistem yang mereka bangun.

GitHub vs GitLab untuk Project Pribadi

Kalau hanya ingin menyimpan project pribadi, sebenarnya tidak perlu terlalu lama memikirkan pilihannya.

Keduanya sudah lebih dari cukup.

Namun GitHub biasanya lebih menarik kalau tujuannya juga untuk membangun portfolio.

Misalnya kita membuat:

  • project Laravel,
  • aplikasi React,
  • REST API,
  • WordPress plugin,
  • atau project eksperimen lainnya.

Repository tersebut bisa ditampilkan di profil GitHub sebagai bagian dari portfolio developer.

Selain itu, kemungkinan developer lain sudah memiliki akun GitHub juga lebih besar sehingga kolaborasinya cukup mudah.

GitHub vs GitLab untuk Perusahaan

Untuk perusahaan, pilihan biasanya lebih bergantung pada workflow yang digunakan.

Misalnya sebuah perusahaan sudah menggunakan berbagai layanan seperti:

  • GitHub,
  • Docker,
  • AWS,
  • Jira,
  • dan layanan CI/CD lainnya.

GitHub bisa menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Namun jika perusahaan ingin banyak proses development tersedia dalam satu platform, GitLab bisa menjadi pilihan yang menarik.

GitLab memiliki pendekatan yang cukup kuat untuk menghubungkan repository dengan pipeline, deployment, registry, hingga workflow DevOps lainnya.

Apakah Bisa Pindah dari GitHub ke GitLab?

Bisa.

Karena keduanya menggunakan Git, repository sebenarnya relatif mudah dipindahkan.

Misalnya sebuah project awalnya berada di GitHub kemudian perusahaan memutuskan menggunakan GitLab.

Repository dapat di-clone kemudian remote repository diarahkan ke GitLab.

Sebaliknya juga bisa dilakukan.

Jadi memilih GitHub atau GitLab bukan seperti memilih teknologi yang tidak bisa diganti lagi.

Project masih bisa dipindahkan jika kebutuhan tim berubah di kemudian hari.

Mana yang Lebih Bagus, GitHub atau GitLab?

Tidak ada jawaban yang selalu benar untuk semua project.

GitHub biasanya cocok jika kita menginginkan:

  • komunitas developer yang besar,
  • project open source,
  • portfolio developer,
  • integrasi dengan banyak layanan,
  • serta workflow yang relatif mudah dipahami.

Sementara GitLab menarik jika kita membutuhkan:

  • workflow DevOps yang terintegrasi,
  • CI/CD yang cukup lengkap,
  • kontrol infrastructure yang lebih besar,
  • atau ingin menjalankan repository pada server sendiri.

Untuk developer pemula, GitHub mungkin terasa lebih mudah karena banyak tutorial programming menggunakan GitHub sebagai contoh.

Tetapi memahami GitLab juga tetap berguna karena cukup banyak perusahaan yang menggunakannya untuk project internal.

Kesimpulan

GitHub dan GitLab sebenarnya memiliki tujuan utama yang sama, yaitu membantu developer menyimpan, mengelola, dan berkolaborasi dalam source code berbasis Git.

Perbedaannya lebih terlihat pada ekosistem dan pendekatan yang mereka gunakan.

GitHub memiliki komunitas developer dan ekosistem open source yang sangat besar, sedangkan GitLab cukup menonjol dengan pendekatan DevOps yang terintegrasi.

Kalau baru belajar Git, tidak perlu terlalu memusingkan platform mana yang paling bagus.

Yang jauh lebih penting adalah memahami konsep dasar seperti commit, branch, merge, remote repository, pull, push, dan conflict.

Kalau konsep Git sudah dipahami, berpindah antara GitHub dan GitLab biasanya tidak terlalu sulit.

Wilan

Kontributor tetap Bali Island Tekno yang aktif berbagi pengetahuan seputar teknologi, pemrograman, dan dunia rekayasa perangkat lunak.

Bacaan berikutnya